Pemimpin Responsif dan Kolaboratif Adalah Gambaran yang Ada Pada Sosok Ganjar Pranowo
Bakal Calon Presiden
(Bacapres) PDI Perjuangan Ganjar Pranowo dikritik lantaran dianggap ikut campur
persoalan di Jakarta. Pasalnya, pria berambut perak itu adalah Gubernur Jawa
Tengah (Jateng).
Ganjar yang menelepon
pejabat DKI Jakarta dinilai kurang pas ikutan cawe-cawe masalah daerah lain.
Padahal, di wilayahnya, masih seabrek persoalan yang belum kelar. Ganjar pun
heran niat baiknya dikritik.
Menanggapi hal ini, Ketua
DPP PDI Perjuangan sekaligus Ketua Tim Koordinasi Relawan Ganjar Pranowo Ahmad
Basarah mengatakan, tindakan Ganjar merespons keluhan warga Jakarta menunjukkan
karakter kepemimpinan responsif dan kolaboratif.
“Model kepemimpinan ini
sangat diperlukan untuk menyelesaikan berbagai sumbatan komunikasi antara warga
dan pengambil kebijakan,” kata Basarah saat berbincang dengan Rakyat Merdeka,
belum lama ini.
Kepemimpinan responsif,
maksudnya cepat mengambil tindakan. Sedangkan kolaboratif, menyalurkan aspirasi
tersebut ke pengambil kebijakan.
Bukan kali ini saja Ganjar
berkolaborasi dengan para pengambil kebijakan. Sebelumnya, saat menerima
keluhan pedagang bakso di Bekasi dengan alasan sulitnya mengurus izin Pangan
Industri Rumah Tangga (PIRT), Ganjar langsung menelpon Wali Kota Bekasi dan
masalah segera direspons cepat.
Pun ketika mengadakan
pertemuan dengan generasi Z dan millenial, Ganjar memfasilitasi aspirasi mereka
kepada Gubernur Bali.
“Sebagai negara besar yang
wilayahnya luas, model kepemimpinan responsif kolaboratif ini menjadi
kebutuhan,” ujar Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi)
itu.
Wakil Ketua MPR ini menilai,
kapasitas Ganjar ketika diundang organisasi relawan di Pasar Anyar Bahari,
Jakarta Utara, harus dilihat sebagai Bacapres, bukan sebagai Gubernur Jateng.
Sebagai Bacapres, Ganjar
harus menyerap aspirasi masyarakat di seluruh Indonesia. Jadi, penyampaian
aspirasi rakyat kepada Ganjar bukan mencampuri urusan daerah lain.
Tetapi, sebagai bakal calon
pemimpin nasional merasa punya kewajiban menjadi jembatan komunikasi kepada
pihak terkait.
“Semata agar masalah rakyat
yang saat itu mengadu kepadanya cepat dibantu dan terselesaikan,” tambah
Basarah.
Dikatakan, jika seorang
bacapres saat bersosialisasi hanya mendengar keluh kesah warga, serta menunggu
menyelesaikan persoalan ketika telah terpilih menjadi Presiden, justru akan membuat
masalah semakin berlarut-larut.
Sebagai Bacapres, lanjut
Basarah, Ganjar sadar menyelesaikan keluhan warga saat ini bukan kewenangannya,
sehingga dengan menjunjung etika politik, Ganjar menyampaikan aspirasi tersebut
ke pejabat terkait.
Menurutnya, apabila Ganjar
dinilai seolah berperan seperti presiden tentu tidak tepat. Sebab, Presiden
sifatnya instruksi, bukan menyampaikan aspirasi. Jika dikatakan Ganjar
mencampuri urusan Jakarta, juga tidak tepat, karena Ganjar tidak mengambil alih
wewenang Pemprov DKI.
“Jadi, mari kita kembalikan
kepada niatnya, apa yang dilakukan Ganjar harus dipandang sebagai upaya
membantu Pemerintah Daerah menyelesaikan berbagai masalah di akar rumput dengan
cepat,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Ganjar
menelepon langsung Penjabat (Pj) Gubernur DKI Heru Budi Hartono dan Sekretaris
Daerah DKI Jakarta Joko Agus Setyono untuk mengadukan masalah pedagang Pasar
Anyar Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara saat blusukan ke wilayah tersebut
belum lama ini.
Tindakan
Ganjar yang diunggah di media sosial, mendapat respons negatif netizen. Ganjar
pun heran niat baiknya disalahartikan. Padahal, kata Ganjar, dia hanya ingin
menyampaikan pesan warga kepada pimpinan daerah setempat. Hal semacam ini kerap
dia lakukan di mana pun.
