Hanya Ganjar Pranowo yang Melesat Karena Prestasinya! Tanpa Embel-Embel Keluarga Untuk Membuatnya Dikenal Rakyat!
Siapa sih yang tidak suka media sosial? Entah tujuannya untuk update status sehari-hari ataupun sekedar update informasi, atau malah dua-duanya. Memang di era modern ini, semua kecanggihan teknologi bisa dinikmati secara berjamaah.
Tapi miris kalau tahu saudara
kita yang berada di daerah terpencil, belum bisa mengakses kecanggihan
teknologi seperti kita. Pemerintah sudah menganggarkan, agar semua bisa
merasakan teknologi ini dengan pengadaan pemancar sinyal.
Tapi ada oknum yang tidak
bertanggungjawab dan rakus merampas hak mereka, seperti halnya Menteri
Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate yang juga merangkap
sebagai sekjen Nasdem.
Partai mereka adalah pengusung
calon presiden Anies Baswedan, bukannya mencontohkan hal yang baik, mereka
justru mengambil hak rakyat. Itulah mengapa Anies Baswedan sedang menjadi
bulan-bulanan warganet.
Bukannya mengakui kesalahan,
dan mengambil semua tanggungjawab itu, sang ketum, Surya Paloh justru melakukan
pembelaan terhadap kader yang kini berstatus koruptor itu. Jangan tanyakan
bagaimana sikap Anies, tentu dia juga ikut arus di dalamnya.
Dengan membawa nama Tuhan, Anies
yakin semua kebenaran akan terungkap. Itulah yang membuatku geram, mereka
seolah-olah berada di pihak yang terdzolimi. Rakyat mungkin sudah bukan
prioritas mereka lagi, yang dibela kini koruptor bukan lagi hak rakyat.
Itulah yang membuat survei
menunjukkan elektabilitas Anies stagnan dan berindikasi ambles, karena ia tidak
sepenuh hati berpihak kepada rakyat.
Dari data terakhir yang
dilakukan oleh Lembaga survey Charta Politika, ada 3 simulasi nama yang menjadi
pilihan rakyat. di peringkat pertama ada Ganjar Pranowo sebesar 38,2%, di
posisi kedua ada Prabowo Subianto di angka 31,1%, dan di posisi ketiga ada
Anies Baswedan dengan perolehan angka 23,6%.
Begitu pula dengan hasil survey
yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting sebelumnya. 3
Simulasi nama capres yang dipilih rakyat Indonesia, ada Ganjar Pranowo dengan
dukungan sebesar 39,2%, di tingkat kedua ada Prabowo Subianto dengan dukungan
32,1%, dan terakhir ada Anies Baswedan yang hanya mendapat dukungan sebanyak
19,7% saja.
Riset itu diambil jauh hari
sebelum kejadian memborgol tangan Johnny, yakni pada tanggal 30-7 Mei 2023.
Bisa dipastikan setelah ini survei yang didapat Anies bukan lagi stagnan tapi
akan anjlok. Apalagi statemennya yang memframing pembelaan untuk kawan barunya
itu, bukannya membuat naik tapi justru mengalami penurunan elektabilitas.
Pasalnya kasus yang menyeret
Johnny ini bukan baru saja diselidiki oleh pihak yang berwenang, tapi sudah
dari lama. Tapi kenapa Anies dan kubunya masih membela kelakuan bejat Johnny
yang sudah lama dipendam ini? Itulah yang sedang dipertanyakan publik.
Bahkan terdengar pula koar-koar
penangkapan Johnny ini adalah jebakan batman yang dibuat Jokowi sebagai petugas
partai. Statemen itulah yang terlontar dari Willy Aditya, ketua DPP Nasdem yang
tidak terima karena rekan sejawat mereka ditangkap atas perbuatannya sendiri.
Semakin membuat muak publik,
bukannya memperbaiki dan melakukan evaluasi justru mereka memberontak
menyalahkan pemerintah. Mereka yang merampas hak milik rakyat, tapi kenapa yang
dikira tidak berpihak pada rakyat malah pemerintah?
Inilah jungkir balik Nasdem,
sedang berada di bawah masih sempat-sempatnya membuat ulah dengan melempar
fitnah dan berita hoax kepada Jokowi. Hal tersebut amat kontras dengan kondisi
Ganjar Pranowo yang sekarang sedang digandrungi masyarakat secara luas.
Dia bukan elite politik yang
terkenal seperti Anies dan Prabowo, dia hanyalah Ganjar Pranowo tanpa
embel-embel yang membuntutinya. Dalam sebuah potongan komik online tercapture
bagaimana tiga tokoh politik bisa dikenal rakyat Indonesia secara luas.
Yang pertama ada Anies
Baswedan, dikenal karena membawa nama harum kakeknya yang ikut serta dalam
proses kemerdekaan Indonesia. Lalu ada Agus Harimurti Yudhoyono, yang dikenal
karena membuntuti kiprah ayahnya sebagai presiden RI ke-6.
Tokoh terakhir ada Ganjar, yang
dikenal orang karena prestasinya di dunia politik dari tahun 90an. Karirnya
tidak mulus, ada tikungan, ada geronjalan, tapi itu yang membuatnya kuat hingga
kini ia dikenal rakyat Indonesia secara luas sebagai capres, dengan
elektabilitas tinggi karena prestasi bukan karena nama keluarganya.
Disaat dua capres lainnya ribut
dengan urusan memperebutkan kekuasaan, Ganjar masih sibuk mengurusi Jawa
Tengah. Hari ini saja, dia masih memantau bagaimana kondisi jalan di Jateng.
Jalan provinsi yang menjadi tanggungjawabnya, sekaligus menyentil kepala daerah
dibawahnya juga untuk memperhatikan jalan rusak di setiap kabupaten.
Diantara tiga capres, nama
Ganjar memang paling mendominasi suara yang datangnya dari pemilih
Jokowi-Ma’ruf. Presiden yang tadinya disalahkan Willy karena berpihak pada
partai, nyatanya yang dibanggakan rakyat.
Dalam setiap survey tingkat
kepuasan kinerja rakyat terhadap Jokowi selalu berada di atas 70%. Itu semua
dari apa yang mereka rasakan selama hampir 10 tahun terakhir bersama Jokowi,
bukan suara yang dibeli apalagi penghasutan seperti yang dilakukan oknum
provokator lain.
Dari situlah, warga ingin
pemimpin setelah Jokowi haruslah memiliki etos kerja dan sifat yang 11-12
dengan sang presiden. Dan nama Ganjar Pranowo yang saat ini merajai suara
pemilih Jokowi-Ma’ruf, bukan Anies yang tadi berpihak pada koruptor yang
mengambil hak rakyat. bukan pula elite politik lain yang kurang bisa membaur
dengan rakyatnya.
Ganjar satu-satunya capres yang
mampu merangkul semua rakyatnya, dengan perbedaan yang ada. Seperti yang sudah
diketahui sebagian besar rakyat, bahwa yang dikenal dari Ganjar itu bukan
keluarga tapi karena keberhasilannya sebagai seorang pemimpin dan wakil rakyat,
yang terus memperjuangkan hak-hak rakyatnya selama mengemban amanah.
